Skip to content

Berani Mimpi

Agustus 26, 2007

BERANI MIMPI
(Gan Yu Meng Xiang)

Alkisah, disebuah desa miskin ada satu sekolah dasar. Hanya sedikit
muridnya karena kebanyakan anak-anak di desa itu membantu orang tua
nya mencari nafkah. Suatu hari satu-satunya guru yang ada disekolah
itu sedang memberi pelajaran mengarang. Setelah menjelaskan cara-cara
mengarang cerita, si guru memberikan pekerjaan rumah. “Anak-anak,
pekerjaan rumah hari ini adalah mengarang dengan judul ‘Cita-Citaku.
Besok, hasil karangan kalian dibaca didepan kelas satu persatu..”

Keesokan harinya, murid-murid maju ke depan kelas dan membacakan
karangannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi
guru, petani atau pegawai pemerintah, dll. Sang Guru selalu manggut
manggut tanda setuju.

Lalu tiba, giliran seorang murid yang paling muda usianya, Bajunya
tambal sulam, tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya sangat lantang,
“Kalau besar nanti, aku ingin punya rumah besar dengan pondok-pondok
kecil disekelilingnya untuk tempat peristirahatan, Berderet pohon
cemara dan pohon yang rindang diantara rumah-rumah itu. Ada taman
bunga tertata dengan buah-buahan lezat yang bisa dipetik oleh penghuni
rumah dan penduduk sekitarnya. Saya ingin jadi orang sukses dan
bahagia bersama dengan keluarga besar dan para tamu yang datang
disana..”.

Mendengar suara langtang si murid kecil itu, kontan seisi kelas ter
tawa bersamaan.. “Dasar pemimpi..!” ejek murid yang lain.
mereka mencemooh cita-cita si Murid kecil. Melihat kegaduhan itu
si Guru jadi Marah-marah. Ia menganggap, biang keroknya kegaduhan
itu adalah si murid kecil tadi. Si Guru menegurnya, “Yang kamu tulis
itu bukan cita-cita, tapi impian yang tidak mungkin terjadi. Kamu
harus tulis ulang tentang cita-citamu yang sebenarnya.” perintah
Sang Guru.

“Guru, ini adalah cita-citaku yang sebenarnya. ini bukan hanya mimpi,
ini bisa jadi kenyataan,” murid kecil bersikeras.

“Heh,. kamu hidup di desa yang miskin, keluargamu juga keluarga miskin
Bagaimana kamu akan mewujudkan cita-cita seperti itu:? Dasar Pemimpi.!
Buat karangan yang masuk akal saja!” teriak si Guru mulai tidak sabar.

aku tidak mau cita-cita yang lain. ini adalah cita-cita ku, tidak ada
yang lain..” si murid ngotot.

Besok kamu harus bawa karangan yang baru. Jika tidak kamu perbaiki
karanganmu itu, kamu akan mendapat nilai yang jelek,” Si Guru mulai
mengancam. Namun keesokan harinya, si murid ke sekolah tanpa membawa
karangan baru. Walau diancam dan dipermalukan seperti itu, dia tetap
pada cita-cita semula. Karena sikapnya yang keras kepala dan tidak
mau mengikuti perintah guru, akhirnya ia mendapat nilai yang paling
jelek di kelas.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Tiga puluh tahun kemudian, si Guru
masih tetap mengajar disekolah dasar itu. Suatu hari, ia mengajak
murid-muridnya belajar sambil berwisata ke sebuah kebun buah diatas
bukit yang sangat terkenal. Kebun buah itu berada di desa  tetangga,
tidak seberapa jauh dari desa tempat mereka tinggal. Sesampainya di
kebun buah dan indah itu, si guru dan murid-muridnya berdecak kagum.
Kebun buah itu ternyata dilengkapi dengan sebuah taman bungan yang
luas, dikelilingi pepohonan yang rindang nan sejuk. Yang lebih meng
gagumkan, didekatnya terdapat sebuah sebuah rumah besar bak istana.
Tinggi menjulang, megah dan sangat indah arsitekturnya.

“Orang yang membangun istana ini pastilah orang yang sangat hebat,..
Mengapa baru sekarang aku tahu ada tempat seindah ini,..guman si Guru
terkagum-kagum. Tiba-tiba terdengar jawaban, “Bukan orang hebat yang
membangun rumah ini,.. hanya seorang murid bandel yang berani bermimpi
punya cita-cita yang besar. Pasti yang lebih hebat adalah guru yang
dulu mendidik bocah bandel itu… Mari masuk kedalam rumah, kita
nikmati teh dan buah-buahan terbaik dari kebun  ini…” ujar si pemilik
rumah itu dengan ramah.

Mendengar ucapan itu, mendadak si Guru terpana dan teringat siapa
yang berdiri didepannya. Dia adalah si Murid kecil yang keras kepala
yang mendapat nilai jelek  waktu itu. sekarang dia telah menjelma
menjadi pengusaha yang sangat sukses. Matanya berkaca-kaca, merasa
bersyukur sekaligus menahan malu karena 30 tahun yang lalu dirinya
melecehkan cita-cita anak itu.

—-
Diambil dari Milis BebasFinansial, Milisnya BebasFinansial Network

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: